jump to navigation

Das Sollen versus das Sein Agustus 13, 2006

Posted by ganden in Artikel populer.
trackback

Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh UNESCO Institute for Statistic merupakan angin segar bagi perkembangan riset di kawasan Asia. Laporan tersebut mengatakan bahwa GERD (gross expenditure on research and development) yang dikeluarkan oleh Asia ternyata telah melampaui Eropa. Dana pengembangan dan riset untuk wilayah Asia sebesar 31,5 persen sedangkan Eropa 27,3 persen. Walaupun demikian wilayah Amerika Utara masih yang tertinggi yaitu 37 persen. Sisanya adalah Amerika Latin dan Karibia 2,6 persen, Oceania 1,1 persen, dan Afrika 0,6 persen. Cina menunjukkan pertumbuhan yang signifikan yaitu dari 4 menjadi 9 persen pada periode 1997 sampai 2002. Sementara pada periode yang sama Amerika Utara dan Eropa justru menunjukkan penurunan sebesar 1 persen.

Di negara-negara yang telah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, publikasi internasional merupakan hal yang sangat penting. Bahkan gengsi suatu lembaga riset atau universitas ditentukan oleh banyaknya publikasi internasional yang dihasilkan oleh lembaga tersebut. Hal ini sangat berkaitan juga dengan dana riset yang bisa didapatkan.

Fakta saat ini menunjukkan bahwa kegiatan riset sudah merambah dan berkembang pesat di negara-negara Asia Pacific seperti yang diulas oleh majalah Nature. Hal ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah publikasi ilmiah yang mencapai 25 persen dari total paper ilmiah di seluruh dunia pada tahun 2004. Meskipun persentase ini masih lebih kecil dibandingkan paper ilmiah yang dihasilkan Eropa (38 persen) dan Amerika Serikat (33 persen), namun persentasi peningkatannya cukup besar jika dibandingkan dengan jumlah paper ilmiah yang dipublikasikan tahun 1990 yang hanya 16 persen.

Dalam laporan yang dibuat oleh UNESCO Institute of Statistic juga memuat jumlah peneliti per sejuta penduduk dari beberapa negara di dunia. Untuk kawasan Asia, Cina mempunyai jumlah peneliti terbanyak yaitu 810.500 orang disusul oleh Jepang 646.500 orang kemudian India 117.500 orang. Dengan melihat fakta bahwa jumlah peneliti seluruh Asia hanya 2.034.000 orang, maka jumlah peneliti di Indonesia pastilah sangat sedikit. Menurut data dari Dikti, jumlah peneliti Indonesia saat ini baru mencapai rasio 1: 10.000. Artinya, setiap 10.000 penduduk terdapat 1 peneliti. Dengan populasi penduduk Indonesia saat ini sekitar 220 juta jiwa, berarti baru terdapat sekira 22.000 peneliti. Namun demikian jumlah peneliti terbanyak setiap sejuta penduduk ditempati oleh Jepang yaitu 5.084,4 dan menempatkan Jepang sebagai nomor satu di dunia. Cina dan India masing-masing mempunyai 633 dan 112,1 peneliti setiap sejuta penduduknya. Sedangkan negara-negara yang sudah mapan dalam bidang riset seperti Amerika Serikat (4.373,7), Federasi Rusia (3.414,6), Jerman (3.208,5), Perancis (2.981,8) dan Inggris (2.661,9).

Indonesia masih harus prihatin di tengah kebangkitan negara-negara Asia yang lain dalam mempublikasikan paper yang bertaraf international. Data statistik menunjukkan bahwa publikasi ilmiah Indonesia hanya 0,012 persen dari total publikasi ilmiah dari seluruh dunia. Sebagai contoh, jumlah publikasi ilmiah Indonesia pada tahun 2004 hanya 522 paper ilmiah. Di antara negara Asia Tenggara jumlah paper Indonesia masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Singapura (5781), Thailand (2397), dan Malaysia (1438).

Masalah dan Solusi

Publikasi ilmiah dihasilkan dari suatu penelitian. Penelitian dilakukan untuk menjawab permasalahan penelitian. Permasalahan penelitian merupakan kesenjangan antara “das Sollen” dan “das Sein” yaitu “apa yang seharusnya” dan “fakta yang ada”. Kurangnya sensitivitas peneliti
Indonesia dalam merekam kejadian-kejadian di sekitar mereka merupakan kendala utama dalam menghasilkan suatu penelitian yang berkualitas. Peneliti harus dibekali dengan rasa keingintahuan yang sangat besar sehingga sekecil apapun perubahan yang terjadi dapat ditentukan akar masalahnya dan dipecahkan melalui kegiatan penelitian. Oleh karena itu latihan yang terus-menerus untuk melatih peningkatan sensitivitas terhadap perubahan-perubahan di lingkungan harus selalu dilakukan.

Tidak tersedianya sumber literatur yang memadai juga menjadi kendala utama. Bahan pustaka yang terbaru sangat diperlukan untuk mengetahui perkembangan ilmu terkini. Dengan mengacu pada perkembangan ilmu terkini maka hasil penelitian yang dilakukan juga up to date untuk ditulis dalam suatu publikasi internasional. Mengingat harga jurnal internasional yang sangat mahal, maka perlu dikembangkan kerjasama dengan institusi/universitas di luar negeri sehingga ada kesempatan untuk ke luar negeri dan mengakses jurnal-jurnal yang memuat perkembangan ilmu terkini. Kerjasama ini juga diharapkan menghasilkan suatu publikasi bersama (joint publication).

Rendahnya dana penelitian yang disediakan oleh pemerintah dan terbatasnya sarana penelitian juga merupakan kendala yang sangat berarti. Untuk menghasilkan penelitian yang komprehensif tentulah dibutuhkan dana dan sarana yang memadai. Oleh karena itu kerjasama antar lembaga riset dan universitas di Indonesia maupun dengan institusi lain di luar negeri harus ditingkatkan sehingga kita bisa memanfaatkan alat-alat dan sarana penelitian secara bersama-sama.

Hambatan yang sering diumpai jika ingin membangun kerjasama dengan institusi luar negeri adalah penguasaan bahasa Inggris. Fakta menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Inggris masyarakat kita, khususnya dosen dan peneliti, masih harus ditingkatkan. Tanpa penguasaan bahasa Inggris yang baik, akan sangat sulit menjalin kerjasama dengan institusi luar negeri. Pembekalan bahasa Inggris harus diintensifkan mulai dini.

Sinergi kegiatan riset untuk menunjang arah kebijakan riset nasional belum optimal. Seyogyanya semua kegiatan riset di Indonesia diarahkan dan disinergikan untuk mewujudkan tujuan masing-masing unggulan riset nasional. Misalnya dalam bidang ketahanan pangan, kelautan, dan bioteknologi sehingga out put riset menjadi jelas dan terarah.

Budaya ilmiah di kalangan akademisi dan peneliti Indonesia masih sangat kurang. Budaya ilmiah dapat dibangun melalui pertemuan-pertemuan ilmiah. Lembaga riset dan universitas harus dipacu untuk mengadakan pertemuan-pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar, workshop, koloqium dan lain-lain. Selain dapat merangsang semangat untuk meneliti, ajang ini juga dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan ilmu terkini dan menjalin kerjasama antar lembaga untuk melakukan penelitian bersama. Yang terpenting adalah sarana untuk belajar menulis dan mengekspresikan hasil penelitian dalam bentuk tulisan secara logis dan kronologis.

Jumlah jurnal-jurnal ilmiah yang terakreditasi di Indonesia masih sedikit. Jurnal ilmiah terakreditasi nasional merupakan jembatan yang sangat penting untuk mempublikasikan paper di tingkat internasional. Oleh karena itu keberadaan jurnal-jurnal ini baik secara kuantitas maupun kualitas harus ditingkatkan. Melalui jurnal ini dapat diketahui sejauh mana perkembangan ilmu-ilmu tertentu.

Integrasi penelitian dalam mata kuliah harus dilakukan sejak dini sehingga Indonesia dapat menghasilkan peneliti-peneliti muda yang potensial. Hampir sebagian besar mahasiswa hanya melakukan satu kali kegiatan penelitian yaitu saat skripsi. Hal ini sangat tidak menguntungkan karena mahasiswa tidak mempunyai pengalaman yang cukup dalam bidang penelitian setelah mereka lulus. Oleh karena itu perlu adanya integrasi yang berkesinambungan penelitian dalam mata kuliah, misalnya metodologi penelitian sehingga sejak dini mahasiswa sudah dilatih untuk menulis karya tulis ilmiah dan melakukan penelitian.

Semangat hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 61 dapat dijadikan momen yang tepat untuk kebangkitan Indonesia dalam bidang science dan teknologi dengan cara meningkatkan penelitian yang beorientasi publikasi ilmiah internasional.

About these ads

Komentar»

1. Jeremias Jena - September 29, 2007

maaf mas, aku tambahkan blog mas di blogku ya… Soalnya ada info beasiswa yang sangat bermanfaat. Aku kepingin sekali mendapatkan beasiswa, tapi gak tau jalur dan caranya….

Terima kasih

2. Qinimain Zain - Oktober 8, 2008

(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

3. deny - Desember 18, 2008

bukankah sebaiknya penelitian itu untuk mencari kebenaran, bertujuan untuk sesuatu yang bermanfaat, dan kesejahteraan hidup agar menjadi manusia yang lebih baik, bukan sekedar menjadi baik. kalau menjadi baik terkadang berupa tujuan sesaat atau pencapaian temporal yang tidak lepas dari popularitas. kalau mencari gengsi saja nanti bisa-bisa kita menjadi robot peneliti.tetapi entah lah, aku sendiri kurang tahu apa itu “gengsi” dalam penelitian atau pada peneliti.

katanya dunia ini terkadang bersifat analogi dengan ilmu dan pengetahuan yang ada didalamnya. contohnya inpirasi dan ide. para penemu atau mereka cendekiawan yang menemukan sesuatu selalu berawal dari sesuatu yang berada di sekitar/lingkungannya.

4. surga_Pikanisa » Das Sein Das Sollen - Desember 18, 2008

[...] peningkatan sensitivitas terhadap perubahan-perubahan di lingkungan harus selalu dilakukan. (from : http://ganden.wordpress.com/2006/08/13/das-sollen-versus-dan-das-sein/ [...]

5. indah vivi - Februari 11, 2009

maaf…. saya mau tanya. apasih pegertian des sollen dan das sein serta keggunaannya.

6. shela - Oktober 22, 2009

maaf saya mau tanya
contohnya das sein dan das sollen itu apa saja?????
thank’s………..

7. zaldy - November 1, 2009

dari bahasa apadassollen dan das sein itu? tks

8. mazda - Januari 24, 2010

sebenarnya apa sh das sollen dan das sien itu?

9. acak ucik - Januari 24, 2010

q punya stetemen seperti ini tapi tidak paham bisa jelasin g?
bagaimana pancasila yang mengandung nilai2 etis (das sollen) di implementasikan dalam dunia nyata (das sein)

tolong jelaskan ya………..terima kasih……

10. kidipowardoyo - Agustus 6, 2010

Salam sejahtera bagi semua . emua orang menyaksikan betapa banyak ketidak adilan terjadi dimuka bumi. Yang demikian itu identik dengaan kehidupan dialam bebas, alam-binatang umumnya: ” hanya ada kenyataan ” Survival to the fittest.” bahkan sepertinya dikalangan manusia “survival to the fulgarist.” Semakin DEWASA manusia semakin jauh dari watak binatang, tetapi kapan manusia akan mencapai kedewasaannya penuh ? Mereka baruy akan benar-benar memahami dan menghayati ” Deklarasi H.A.M.” Saat ini KEBENARAN Firman Allah sedang diaduk-aduk oleh manusia serakah harta dunia. Kalau produksi perlenkapan perangsudah menumpuk, maka mereka berusaha menimbulkan peperangan supaya stock barangnya laku dijual. Itu sajlah. Sedang EKONOMI dunia belum berasaskan KEMITERAAN, melainkan berdasar kepentingan antar kelompok dan bangsa, sedang rakyat umum jelata hanya dijadikan
alat-alat , robot darimpara penguasa. Karena manusia sesungguhnya mempunyai akal-budi dan daulat pribadinya masing-masing, maka pembodohan sesama manusia tidak bisa terus berlangsung , melainkan KESADARAN eksist4nsinya ebgai makhluk
yang berfikir dan berperasaan , entah kapan akan menghentikan permainan serakah dari manusia yang serakah. Sehingga dikiaskan singa tidak makan daging lagi dan ular tedung bermain dengan kanak-kanak kecil, tidak ada kekejaman dan kesertakahan lagi Kapan? Gagasan John Calvin bahwa umat manusia mengalami Total depravity itu benar, tetapi apakah berlanjut dengan kehancuran total, atau kesadaran dan pertobatan massal.. semoga begitu.
Hanya tetap ada HARAPAN, semuga kelak entah kapan BUMI menjadi seperti disurga susuai kehendak NYa. Ataau mengalami “the dooms day?” Manusia yang bukan binatang buas danliar akan mengantisipasi datangnya Bumi dan Langit yang BAru, sedang orang-orang DEGIL terus meluncur kejalan kesesatan dan menuju keneraka jahannakah ? TIDAK. Juru selamat mengajukan permihonan kepada Allah Bapa : ” Yaaa Bapa ampunilah mereka manusia ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang diberbuat.” Merak kelihatannya hanya seperti binatang, mencari makan, tempat berteduh dan sandang dan berregenerasi, berkembang biak seperti hewan, bahkan dengan segala variasi pornonya. Waaah pokoknya KASIAN kita manusia ini jika perkemangan JIWAnya lambat atau sengaja saling menghambat .
Semoga renungan ini memberi fajar pencerahan dan kembali, repent, bekeren… balik arah …bukan “back to nature” tetapi naik menuju ketingkat kemanusiaan yang saling mengasihi dan tidak hanya memetingkan keperluan/kesenangan diri sendiri saja. Amiin.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: