jump to navigation

Proses Pengolahan Air Lapindo Agustus 12, 2006

Posted by ganden in Artikel koran.
trackback

Sabtu, 12 Agustus 2006, Opini Metropolis Jawa Pos


KINI diwacanakan pembuangan air lumpur Lapindo ke laut lewat Kali Porong setelah dilakukan treatment (diolah). Dengan asumsi perbandingan lumpur dan air 3:7, tentunya sudah ratusan ribu meter kubik air kini berada di kolam-kolam penampungan, di atas endapan lumpur. Sebagian memang berkurang setelah jebol membanjiri Jatirejo tiga hari lalu.
Air itu diduga masih mengandung material organik dan anorganik yang potensial menimbulkan pencemaran jika langsung dibuang ke lingkungan tanpa dilakukan treatment (pengolahan). Adanya material organik dapat menyebabkan tingginya nilai biological oxygen demand (BOD) maupun chemical oxygen demand (COD). Kandungan garam (NaCl) yang sangat tinggi, ammonium (NH4+), dan juga mungkin logam berat akan memberikan risiko besar bagi lingkungan.

Strategi pengolahan air Lapindo harus memperhatikan aspek teknologi, kualitas, dan biaya. Pemilihan teknologi pengolahan air Lapindo pastilah akan mengarah pada pengolahan secara fisika maupun kimia. Pengolahan secara biologi bukanlah pilihan yang tepat karena sistem ini akan membutuhkan fase permulaan yang cukup lama untuk menstabilkan kinerja mikroorganisme sampai mencapai titik pengolahan yang optimum. Padahal, pengolahan air Lapindo sangat mendesak. Mengingat, Kementerian Lingkungan Hidup tidak mau mengeluarkan izin untuk pembuangan air Lapindo secara langsung, baik ke Kali Porong maupun ke laut. Selain itu, dengan debit air limbah yang sangat besar, akan dibutuhkan lahan yang cukup luas dan biaya yang sangat besar. Di lain sisi, air yang telah diolah harus memenuhi standar
baku mutu yang telah ditentukan.

Gabungan pengolahan air secara fisika dan kimia dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan fraksi minyak yang mungkin masih bercampur dengan air. Selain itu, untuk mengendapkan partikel-partikel anorganik (misalnya, logam-logam) dan organik serta mendegradasi partikel organik menjadi partikel yang lebih sederhana (misalnya, CO2 dan H2O). Air hasil proses itu tidak berbahaya jika dibuang ke lingkungan. Pemisahan minyak dapat dilakukan dengan memasang unit flotasi yang dilengkapi dengan oil/grease trapping sehingga minyak akan terbawa ke permukaan air dan dengan mudah dapat dipisahkan dari air. Kadar garam, terutama NaCl, yang cukup tinggi juga merupakan masalah.
Ada dua pilihan yang dapat dilakukan yaitu, pertama, air diolah tanpa dilakukan penurunan kadar NaCl. Jika itu dilakukan, air hasil pengolahan tidak boleh dialirkan ke sungai, tetapi harus dialirkan ke laut melalui pipa saluran air. Tentu saja hal itu membutuhkan biaya besar karena lokasi semburan lumpur panas ke laut sekitar 17-18 km.
Kedua, air hasil pengolahan diolah lagi di bagian post treatment menggunakan RO (reverse osmosis) untuk menurunkan kadar garam (NaCl). Air dari sistem RO tersebut bisa langsung dibuang ke sungai. Karena itu, bisa dipilih yang lebih murah dengan kualitas air yang lebih baik, sistem perpipaan, atau sistem RO.Menurut informasi dari teman sejak mahasiswa yang sekarang menjadi asisten Deputi Kementerian KLH Rasio Ridho Sani, yang bertugas di lokasi lumpur, air Lapindo mengandung koloid. Adanya koloid itu menyebabkan pengendapan lumpur menjadi tidak sempurna. Maka, dibutuhkan waktu yang sangat lama supaya terjadi pemisahan yang sempurna antara lumpur dan air. Untuk mempercepat pemisahan lumpur dengan air, diperlukan suatu jenis flokulan dan koagulan yang berfungsi untuk mempercepat pembentukan flok-flok dengan ukuran yang lebih besar yang mudah mengendap dengan gravitasi.Sistem pengolahan limbah yang paling baik adalah sistem yang tidak permanen agar bisa dibongkar setiap saat jika tidak diperlukan lagi. Jadi, ada dua skema pengolahan limbah yang bisa diterapkan, yaitu pertama, bak stabilisasi, oil/grease trapping, praoksidasi/aerasi, bak koagulasi, bak sedimentasi I, bak degradasi, bak sedimentasi II, rapid/slow sand filtration, dan RO system. Kedua, bak stabilisasi, oil/grease trapping, preoksidasi/aerasi, bak koagulasi, bak sedimentasi I, bak degradasi, bak sedimentasi II, rapid/slow sand filtration, dan sistem perpipaan.Bak stabilisasi berfungsi menghomogenkan limbah yang akan dipompa ke dalam sistem pengolahan limbah. Praoksidasi/aerasi dilakukan untuk mengoksidasi besi (II) menjadi besi (III) karena dalam air tanah umumnya besi berada dalam bentuk ion bervalensi rendah (ferro) dan mengoksidasi sebagian kecil ammonium menjadi nitrat. Bak koagulasi adalah tempat flokulan atau koagulan ditambahkan dalam dosis tertentu. Pemilihan jenis flokulan/koagulan dan dosisnya harus dilakukan dulu dalam skala laboratorium menggunakan jar test. Pada bak ini, sebagian besar ion logam (terutama logam berat) dan sebagian senyawa organik diendapkan. Degradasi secara kimiawi umumnya dilakukan dengan menggunakan oksidator kuat. Contohnya adalah reagent Fenton, yaitu campuran antara hidrogen peroksida (H2O2) dan ferro (Fe2+). Campuran senyawa tersebut akan menghasilkan radikal bebas (·OH) yang sangat reaktif dan dapat menyerang molekul-molekul organik untuk diubah menjadi senyawa yang lebih sederhana, misalnya CO2 dan H2O. Bak sedimentasi II berfungsi mengendapkan partikel-partikel yang mungkin dihasilkan dari reaksi di bak degradasi atau partikel-partikel yang masih terbawa ke bak degradasi. Sedangkan rapid/slow sand filtration berfungsi menyaring partikel-partikel padat yang belum terendapkan secara sempurna di bak sedimentasi II. Koagulasi koloid sangat dipengaruhi oleh efek
gaya antarpartikel pada stabilitas koloid. Koagulan yang umum digunakan dalam pengolahan limbah adalah garam-garam aluminium (Al(III)) dan besi (Fe(III)). Garam-garam itu jika dilarutkan dalam air akan membentuk ion poliinti. Jika permukaan ion poliinti negatif, ion-ion itu dapat menetralkan ion-ion yang bermuatan positif (misalnya, ion logam) sehingga terbentuk agregat yang lebih mudah mengendap. Jika dosis koagulannya besar, akan terbentuk senyawa hidroksinya yang dapat menyerap kontaminan-kontaminan organik.

Proses koagulasi menggunakan garam-garam tersebut sangat dipengaruhi pH air limbah. Contohnya alum (garam aluminium) akan efektif sebagai koagulan pada rentang pH 5-7. Pada pH lebih kecil dari 4 atau lebih besar dari 9, kinerja alum sebagai koagulan tidak efektif karena diperlukan dosis yang sangat tinggi (200 miligram per liter) untuk mengendapkan ion aluminium sebagai hidroksidanya. Hasil yang sama juga terjadi pada garam-garam besi.Dewasa ini orang lebih suka menggunakan polimer alum yang dikenal sebagai poli aluminium klorida (PAC) sebagai koagulan karena efektivitasnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan garam aluminium maupun garam besi. Penelitian terbaru yang dilakukan Gao dan Yue menunjukkan bahwa poli aluminium klorida sulfat (PACS) bahkan lebih efektif dibandingkan dengan PAC karena PACS mempunyai struktur polimer yang lebih besar, yang lebih dapat meningkatkan agregasi partikel dalam air.Apa pun jenis koagulan yang digunakan, uji secara laboratorium melalui jar test harus dilakukan untuk mengetahui efektivitas koagulan tersebut dalam mengendapkan partikel-partikel koloid dalam air Lapindo sehingga terjadi pemisahan yang sempurna antara lumpur dan air. Penerapan teknologi pengolahan limbah air Lapindo yang didasarkan pada prinsip optimalisasi antara teknologi, kualitas, dan cost akan memberikan hasil yang optimal sehingga biaya investasi dapat ditekan dan keselamatan lingkungan dapat dijaga.(ganden88@yahoo.com)
Ganden Supriyanto
Doktor pengajar di MIPA Unair, research fellow Groningen University Belanda

Komentar»

1. Neil Aldrin - September 30, 2006

Janganlah kita bermain-main dengan resiko, ingatlah kerusakan lingkungan hari ini dampaknya sangat luas dan berjangka panjang..

2. RANU - Juni 13, 2007

bagai mana untuk pabrik kopi??apakah dapat berhasil?

3. U_U - September 24, 2007

thanks

4. reza - Mei 1, 2008

Bila ingin berbuat sesuatu, kaji dulu baik – baik apa yang akan dihadapi

5. M.Yusuf - Agustus 30, 2008

Tetap Optimis !!!

Dibalik kesulitan PASTI ada kemudahan.

6. aril - November 1, 2008

langkah2nya gimana???

7. murdani - Februari 3, 2009

apakah ada yang menggunakan biomaterial batang jerami sebagai bahan adsorpsi logam berat aluminium dalam air?
dan apa aja yang terkandung dalam batang jerami. dan teori tentang biomaterial batang jerami?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: