jump to navigation

Dari Jombang ke Eropa Agustus 15, 2006

Posted by ganden in History.
trackback

Cuaca mendung menggelayuti kota Groningen, sesekali sinar matahari menyentuh permukaan daun sehingga menjadi kekuningan, angin berhembus semilir, dan suhu udara sekitar 20 derajat celcius walaupun sedang musim panas ketika secara tiba-tiba terbayang ingatan waktu pertama kali pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi S2. Sebelas tahun yang lalu saya mendapatkan kesempatan dan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Delft Belanda.

Sebagai seorang dosen muda saya merasa agak terkejut ketika tiba-tiba saya diminta untuk mengikuti test TOEFL oleh Dekan waktu itu. Saya sebelumnya tidak mengerti untuk apa hasil test TOEFL tersebut. Akhirnya pihak fakultas menjawab ketidakmengertian saya bahwa hasil test TOEFL itu sangat penting untuk studi S2 saya di Belanda. Sesaat saya terkesima. Ternyata saya diproyeksikan untuk melanjutkan studi S2 di Belanda atas biaya SUDR. Bahkan awalnya pun saya tidak tahu apa itu SUDR. Ternyata belakangan saya tahu SUDR adalah proyek untuk perbaikan dan rehabilitasi 6 universitas negeri di Indonesia. Proyek ini memperoleh bantuan dana hutang dari Asian Development Bank (ADB).

Saya juga terkejut karena waktu itu saya boleh dibilang dosen paling yunior  di jurusan. Sampai sekarangpun saya masih tidak mengerti mengapa saya yang diprioritaskan untuk diberangkatkan studi dan bukan senior-senior saya yang waktu itu juga masih tergolong muda.

Keberangkatan saya ke Belanda diliputi perasaan bercampur aduk, antara sedih dan gembira. Gembira karena bisa studi S2 ke luar negeri bagaikan mimpi bagi saya. Masih teringat dalam bayangan betapa susahnya mendapatkan pendidikan yang layak bagi orang desa seperti saya. Bahkan waktu sekolah dasar, saya tidak pernah memakai sepatu sampai kelas 6. Berangkat berjalan kaki sejauh 4 km menyusuri pematang sawah di bawah rerimbunan pohon bambu. Sekolahku berdinding bambu yang bisa diintip oleh anak-anak kecil selama pelajaran berlangsung. Bayangan kelumpuhan yang menyerangku waktu kelas 3 SMA sehingga memaksa aku memendam dalam-dalam cita-citaku untuk menjadi seorang dokter juga muncul kembali.

Sedih karena baru satu setengah bulan setelah menikah saya harus meninggalkan istri. Lebih sedih lagi ternyata istri saya hamil anak kami yang pertama. Sempat terbersit keraguan untuk berangkat, tapi mertua saya meyakinkan bahwa ini adalah kesempatan yang tidak dating dua kali, dan tidak semua orang mempunyai kesempatan seperti ini. Beliau meyakinkan bahwa mereka akan mengurus istri saya dan, kelak, kelahiran anak pertama kami.

Saya sama sekali tidak malu mengungkapkan bahwa sebagai orang desa baru pertama inilah saya naik pesawat. Di bandara internasional Cengkareng saya dilepas oleh istri dan ibu mertua dengan tangis. Hatiku tersayat tapi saya harus pergi. Ini adalah masa depan keluargaku, masa depan mahasiswaku juga kelak.

Karena ketidaktahuanku aku sempat kesasar ke gate Garuda padahal seharusnya saya naik China Airlines. Saya berlari pontang panting dan menjadi penumpang China Airlines terakhir yang masuk pesawat. Perjalanan ke Amsterdam saya lalui dengan gelisah sampai akhirnya saya tiba di bandara internasional Schipol pada bulan Oktober. Nampak dari jendela pesawat kabut menyelimuti permukaan bandara dan suhu udara ternyata di bawah 20 derajat. Terasa amat dingin bagi orang yang berasal dari daerah tropis. Maklum di Belanda sedang musim gugur.

Keluar dari bandara saya mendapatkan masalah. Petugas bea cukai Belanda curiga dengan koper yang saya bawa. Saya ditanya macam-macam. Dia bahkan tidak percaya kalau saya akan melanjutkan S2 di Delft. Bahkan koper saya ditendang-tendang. Kalau ingat waktu itu dendam rasanya saya sama orang Belanda. Tapi akhirnya saya menyadari bahwa bagian imigrasi bandara inetrnasional adalah pintu negara yang sangat penting.

Kesulitan pertama teratasi muncul kesulitan yang kedua. Karena tidak dijemput oleh pihak universitas, saya harus melanjutkan perjalanan ke
Delft dengan kereta api. Saya tidak tahu bagaimana menemukan stasiun kereta api di Schipol. Saya bertanya kesana kemari. Mungkin karena bahasa Inggris saya masih berlepotan, banyak orang yang tidak mengerti maksud pertanyaan saya. Atau mereka tidak suka dengan tipikal
Asia saya? Saya tidak tahu. Tak terbayangkan sebelumnya, ternyata stasiun kereta terletak di bawah tanah. Kesulitan tidak berhenti sampai disini. Saya tidak tahu kereta mana yang akan ke Delft. Saya termenung. Betapa sulitnya mencari kehidupan yang lebih baik. Tiba-tiba datang seorang gadis. Dia bertanya kemana tujuan saya. Setelah saya katakan tujuan saya ke Delft dia mengajak berangkat bersama-sama karena tujuannya kebetulan sama. Di dalam kereta dia bertanya apakah saya mempunyai keluarga di Belanda. Saya jawab tidak. Setelah berbincang-bincang beberapa lama dia menyatakan keheranannya bagaimana dengan bahasa Inggris yang saya miliki, saya berani datang ke Belanda untuk studi S2 disini? Kalau mengingat peristiwa itu, terus terang saya malu, tetapi juga takjub terhadap keberanian saya.

Kuliah S2 saya lalui dengan sangat berat. Bayangkan sebelum berangkat ke Belanda saya terbiasa mengetik dengan Chi Writter, tetapi di
Delft mereka sudah menggunakan Words. Pontang-panting saya belajar Words, Excel, dan Power point. Belum lagi bekal bahasa Inggris yang saya bawa ternyata belum cukup untuk mengikuti kuliah dalam bahasa Inggris yang sebenarnya. Bahkan kalau dosen melucu dan semua tertawa, saya tidak mengerti letak lucunya dimana. Setiap kuliah, kamus bahasa Inggris tidak pernah lepas dari tangan. Belum lagi mata kuliah yang diberikan benar-benar baru bagi saya. Hidrologi, demografi, pengolahan limbah, ekologi adalah mata kuliah yang asing bagi saya karena latar belakang pendidikan S1 saya adalah kimia. Ingatan masa kecil dan darimana saya berasallah yang memacu semangat saya. Gelar Master by Course akhirnya saya peroleh setelah menempuh pendidikan selama 11 bulan pada tahun 1996. Karena pembimbing menilai kemampuan saya memadai, saya mengambil master by research yang saya selesaikan dalam waktu 8 bulan.

Sepulang dari Belanda saya menjadi lebih bersemangat mengembangkan riset. Semangat saya tidak pernah padam untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi. Sampai akhirnya pada tahun 2000 saya mendapatkan beasiswa dari DAAD untuk studi S3 di Jerman. Selama 6 bulan kami digembleng bahasa Jerman di Goethe Institut Jakarta. Ternyata bekal bahasa dari Indonesia sekali lagi hanya bisa untuk belanja, tidak bisa untuk masuk universitas. Selanjutnya kami digembleng lagi bahasa Jerman di Goethe Institut Dresden sampai lulus DSH. Sertifikat DSH adalah syarat mutlak (waktu itu) untuk kuliah di Jerman.

Pengalaman di Belanda membuat saya lebih percaya diri waktu studi di Jerman. Untunglah S2 saya di Belanda sehingga saya tidak diharuskan mengambil beberapa mata kuliah. Kadang-kadang lulusan S2 dari Indonesia masih harus mengambil beberapa mata kuliah dan menjalani ujian tulis. Tapi itu juga tergantung profesornya. Di Jerman, profesor sangat berkuasa. Untunglah profesor saya orangnya baik dan tidak neko-neko.

Studi S3 di Jerman sangatlah berat karena kita harus bisa mengatur waktu kita sendiri. Segala keperluan yang berkaitan dengan riset harus diurus sendiri. Bahkan kita harus terbiasa menelpon pihak industri, supplier bahan kimia, dan supplier instrumen sendiri jika ada kerusakan. Dengan penguasaan bahasa Jerman yang pasa-pasan, pastilah setiap hari kita bisa berkeringat dingin. Jadi studi S3 di Jerman tidak hanya menuntut kepiawaian dalam bidang riset tetapi juga dalam bidang komunikasi.

Bahasa Jerman dan bahasa Inggris saya juga semakin terasah karena dipercaya sebagai asisten kuliah dan praktikum untuk mahasiswa master program internasional dan mahasiswa Jerman untuk program diploma. Akhirnya program S3 berhasil saya selesaikan dengan hasil sangat memuaskan (magna cumlaude). Hal ini tetap membanggakan saya walaupun tidak    distinction (summa cumlaude).

Sekarang Eropa khususnya Belanda dan Jerman seperti kampung halaman saya yang kedua. Saya berjanji akan selalu datang dan datang lagi kesini untuk membuka kerjasama riset dengan lembaga riset dan universitas di sini. Ini sangat penting untuk memberikan jalan bagi mahasiswa dan alumni kami membuka cakrawala keilmuan mereka untuk membangun budaya riset di tanah air sehingga bangsa kita mampu bersaing dengan masyarakat internasional dalam bidang science dan teknologi.

Hijaunya desa saya di Jombang dan liku-liku jalan ke sekolah di waktu kecil selalu memberikan dorongan kepada saya untuk berbuat lebih baik lagi. Stomata daun yang basah karena tetesan air hujan di luar ruang kerja saya di Groningen University seakan berbisik:”Berbuatlah sesuatu yang berguna bagi negaramu yang saat ini mengalami cobaan di segala bidang kehidupan”.  

Komentar»

1. maya - Agustus 17, 2006

salut dan respect atas perjuangannya!saya sendiri di jerman baru setahun dan sedang berjuang mati matian untuk lulus DSH dan kadang2 malah terpikir untuk giving up.

2. haning - Agustus 30, 2006

Ass. Saya da liat2 dan baca2 info beasiswanya, tapi kayaknya kok ga ada beasiswa S2 kimia??? ntar klo ada, mohon Bapak berkenan mengirimkannya ke email saya. Selamat bekerja..Was

3. Djoen Jombang - September 6, 2007

Ass, baru sekarang saya nemu blognya Pak, salut juga atas perjuangannya! sng bis jadi my inspirasi

4. Aan Hunaifi -Fisika UA - Juni 19, 2008

Ass.Hebat Pak Ganden, Kalau cerita tentang anak desa saya jd iri dengan pak ganden orang desa tp semangat Kuto. mudah2 saya yang juga anak ndeso bisa sukses seperti pak Ganden.

5. wiwik - Februari 14, 2010

saluut buat pak Ganden,sepertinya saya bisa mengingat Bapak,tapi dalam ingatan saya bukanlah Pak Ganden yg sekarang,hanya ganden remaja smpn mojoagung yg rumahnya di wonoayu.Emang betul kata Andrea Hirata,”bermimpilah karena Tuhan akan mewujudkan mimpi2mu” Sukses selalu Pak Ganden,salam tok keluarga.

6. tondo - April 1, 2011

askum,,,emang, hebat om ini, dari crta ibu sya, om sring mmbwat banggga orang tua, rasa minder tak parnah ada, dari SD-SMA SLALU DGN PRESTASI YG BAGUS, sosok om emeng patut d akui sebagai teladan anak” sekarang, saya bangga jd bgian keluarga om,

salam dr keluarga tulungagung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: