jump to navigation

Ke Groningen (Jilid 2) Maret 21, 2008

Posted by ganden in Cerita perjalanan.
trackback

Tepat pukul 06.00 pagi pesawat Boeing 747-400 dari maskapai penerbangan Malaysian Airlines yang membawaku mendarat dengan sangat mulus di landasan bandar udara Schipol Amsterdam. Tampak di luar masih gelap.  Pesawat terus meluncur melewati lampu-lampu di sepanjang runway dan kemudian merapat di sisi bangunan bandara yang dihubungkan dengan belalai untuk lewat para penumpang.  Beberapa saat yang lalu captain pilot melaporkan bahwa suhu udara di luar sekitar 2 derajat celcius. Busyet..pikirku. Hampir musim semi tapi suhu udara masih sangat rendah. Benar-benar di luar dugaanku. Yah..hari itu tepat tanggal 19 Maret 2008 untuk kedua kalinya dalam kurun waktu dua tahun aku menginjakkan kaki di Belanda. Kedatanganku kali ini sama dengan kedatanganku sebelumnya yaitu melakukan kerjasama riset dengan Groningen University yang dibiayai oleh KNAW (The Royal Netherlands Academic of Art and Science). Sebenarnya aku sudah bosan datang ke Belanda. Tetapi karena sudah terlanjur menandatangani kontrak, maka aku harus konsisten datang supaya tidak berakibat negatif bagi institusi.

Tidak nampak adanya perubahan dari Schipol jika dibandingkan dengan tahun lalu. Semuanya biasa saja. Orang lalu lalang untuk mengambil bagasi dan juga untuk check in. Datang dan pergi. Dengan langkah cepat aku menuju hall pengambilan bagasi. Nampaknya jumlah penumpangnya cukup banyak sehingga cukup lama aku berdiri menunggu sampai tas koperku muncul. Badanku tidak terasa lelah walaupun lama penerbangan sekitar 14,5 jam. Mungkin karena sudah terbiasa atau karena aku tidur sangat nyenyak selama dalam perjalanan.

Dengan koper dan tas di punggung aku cepat berjalan keluar melewati petugas duane (bea cukai) menuju tempat penjualan karcis kereta. Yah..dari Schipol ke Groningen memang tidak ada jalur penerbangan. Jadi perjalanan ke Groningen bisa ditempuh menggunakan kereta intercity selama 2,5 jam. Kukeluarkan uang pecahan 100 euroku untuk membayar karcis kereta yang seharga 29 euro sekali jalan. Tetapi petugas loket menolaknya. Alasannnya mereka tidak menerima pembayaran dengan nominal 100 euro ke atas. Aku heran tapi aku tidak berusaha untuk berdebat lebih lama karena sebentar lagi kereta yang ke Groningen akan berangkat. Akhirnya aku berinisiatif membeli burger. Kubayar dengan uang yang sama dan lagi-lagi uangku ditolak oleh pramuniaga. Aku tambah bingung. Mengapa di Belanda hal ini terjadi? Padahal selama 4 tahun di Jerman aku nggak pernah mengalami hal yang demikian. Untunglah ada orang Asia yang berbaik hati mau menukarkan 2 pecahan 50 euronya dengan pecahan 100 euroku. Memang nasib. Untunglah aku tidak ketinggalan kereta. Menggigil aku menunggu kereta.  Maklumlah suhu di Indonesia waktu aku pergi di atas 30 derajat sedangkan waktu aku tiba di Belanda 2 derajat celcius. Apalagi aku nggak membawa jaket tebal. Rupanya aku salah duga.

Selama perjalanan ke Groningen kunikmati pemandangan di luar dari jendela kereta. Nampak udara masih berkabut dan tanah masih basah karena sisa-sisa hujan. Tumbuhan masih banyak yang meranggas kecualu beberapa pohon cemara yang memang hijau sepanjang tahun. Sesekali aku melihat pohon-pohon perdu yang mulai berbunga. Pemandangannya masih seperti dulu. Masih seperti ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di Belanda pada tahun 1995.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: